“Bukan saatnya saling mengeluhkan,
berbahagialah !”
Ya. Kalimat itu terbisikkan dalam hati.
Betapa tidak, kau bertanya aku menjawab, kau memuji aku tersipu.
Betapa tidak, kau menolak aku bersikeras, kau meminta aku terpesona.
—-
Maaf kalau aku tak seperti yg kau kagumkan selama ini.
Karena bukan kagum yang aku inginkan darimu, tapi
Kau kerap ‘cubit’ tubuhku yang kurus, aku tahu kau tak pernah bermaksud membuatku sakit, tapi
Jangan kau bayangkan aku menulis ini dengan kesal, marah, atau benci, tapi
Lalu,
Kau pernah buat aturan itu
Perhatikan, berikan perhatian lebihmu pada kalimatku setelah ini
Aku pasti penuhi aturan itu,
hanya . . .
yang ingin kuperlihatkan padamu bukanlah aku yg pandai penuhi syarat, tapi
—
![]()
Kuucapkan selamat pada diriku dan dirimu.
Selamat !
Dalam Tulisan Ini : Sempurna











